Melayani dengan Hati

Hidup ini pada hakikatnya melayani orang-orang di sekitar kita. Bagi orang tua, hidup melayani anak. Bagi anak, hidup melayani orang tua. Bagi karyawan dan pebisnis hidup adalah melayani customer, baik customer external maupun internal. Bagi pembicara seperti saya, hidup adalah melayani peserta seminar atau training.

Melayani bukan sekedar melayani, layanilah sepenuh hati. Mengapa harus sepenuh hati? Karena hati itu ibarat teko atau ceret. Apabila di dalam teko air susu maka saat dituang keluarnya susu. Namun apabila di dalam teko yang tersedia air comberan maka yang keluar adalah air comberan.

Bila hati kita bersih maka yang terucap adalah kata-kata yang baik. Sebaliknya bila hati kita kotor yang keluar adalah kata-kata ketus, sinis, menyakiti dan mendemotivasi orang lain. Dengan demikian melayani yang terbaik dimulai dari hati yang bersih. Nah, agar hati bersih maka setidaknya bisa dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, pastikan yang masuk ke dalam teko adalah air yang bersih. Dengan kata lain, pastikan yang masuk ke dalam pikiran dan hati adalah informasi atau ilmu yang bergizi. Apa yang kita baca, dengar, tonton dan saksikan adalah hal-hal yang positif dan memberi nilai tambah. Selain membuang-buang waktu, membaca, mendengar dan menonton acara yang tak bermutu itu merusak pikiran dan hati kita.

Kedua, pastikan juga wadahnya atau tekonya bersih. Wadah ilmu itu adalah pikiran dan hati. Maka pastikan melatih diri untuk memiliki pikiran dan hati yang bersih. Jauhkan penyakit-penyakit hati seperti dengki, malas, iri, sombong, ingkar, dan sejenisnya. Yakinlah bahwa pasti ada kebaikan dan hikmah di setiap peristiwa

Ketiga, pastikan bahwa setiap orang yang kita layani itu mulia. Begitu kita bertemu dengan orang lain tanamkan dalam hati “ini orang penting” oleh karena itu saya harus memuliakannya dan melayaninya dengan sepenuh hati. Siapakah orang yang Anda muliakan? Bayangkan Anda sedang melayani orang tersebut walau bentuk fisik dan penampilannya berbeda.

Kita semua adalah pelayan dan yang memenangkan persaingan diantara kita adalah yang melayaninya dengan sepenuh hati. Sudahkah itu kita lakukan?

Salam SuksesMulia!

5 ( Lima ) Perusak Hati

Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, ‘bergaul dengan banyak kalangan/pergaulan yang salah, angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.’

  1. Pergaulan yang salah Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif. 

    Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman: 

    “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.” (Al-Furqan: 27-29). 

    “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67). “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong.” (Al-Ankabut: 25). 

    Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah.

  2. Larut dalam angan-angan kosong Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. 

    Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangan-kan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melim-pah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka. 

    Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi n memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

  3. Bergantung kepada selain Allah Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. 

    Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya: 

    “Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Maryam: 81-82) 

    “Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.” (Yasin: 74-75) 

    Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. 

    Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: “Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Al-Isra’: 22) 

    Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

  4. Makanan Makanan perusak ada dua macam. 

    Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina. 

    Kedua , merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: 

    “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

  5. Kebanyakan tidur Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan. 

    Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya. 

    Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa. 

    Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam . 

    (Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)

Keutamaan Bulan Muharram dan Hari Asyura

Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan. Muharram menjadi salah satu dari empat bulan suci yang tersebut dalam Al-Quran. “Jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, tersebut dalam Kitab Allah

pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara kedua belas bulan itu ada empat bulan yang disucikan.”

 

Keempat bulan itu adalah, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua ahli tafsir Al-Quran sepakat dengan hal ini karena Rasululullah Saw dalam haji kesempatan haji terakhirnya

mendeklarasikan, “Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab.”

 

Selain keempat bulan khusus itu, bukan berarti bulan-bulan lainnya tidak memiliki keutamaan, karena masih ada bulan Ramadhan yang diakui sebagai bulan paling suci dalam satu satu tahun. Keempat bulan tersebut secara khusus disebut bulan-bulan yang disucikan karena ada

alasan-alasan khusus pula, bahkan para penganut paganisme di Makkah mengakui keempat bulan tersebut disucikan.

 

Pada dasarnya setiap bulan adalah sama satu dengan yang lainnya dan tidak ada perbedaan dalam kesuciannya dibandingkan dengan bulan- bulan lain. Ketika Allah Swt memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatnya, maka Allah Swt lah yang memiliki kebesaran itu atas

kehendakNya.

 

Keutamaan Bulan Muharram

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Ibadah puasa yang paling baik setelah puasa Ramadan adalah berpuasa di bulan Muharram.”

Meski puasa di bulan Muharram bukan puasa wajib, tapi mereka yang berpuasa pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Swt. Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari ‘Asyura.

 

Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah biasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Menurut orang-orang Yahudi itu, tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari ketika Nabi Musa dan

pengikutnya diselamatkan dari kejaran bala tentara Firaun dengan melewati Laut Merah, sementara Firaun dan tentaranya tewas tenggelam.

 

Mendengar hal ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan, “Kami lebih dekat hubungannya dengan Musa daripada kalian” dan langsung menyarankan agar umat Islam berpuasa pada hari ‘Asyura. Bahkan dalam sejumlah tradisi umat Islam, pada awalnya berpuasa pada hari ‘Asyura

diwajibkan. Kemudian, puasa bulan Ramadhan-lah yang diwajibkan sementara puasa pada hari ‘Asyura disunahkan.

 

Dikisahkan bahwa Aisyah mengatakan, “Ketika Rasullullah tiba di Madinah, ia berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadhan menjadi puasa wajib, kewajiban berpuasa itu dibatasi pada bulan Ramadhan saja dan

kewajiban puasa pada hari ‘Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau atau boleh juga tidak berpuasa, jika ia mau.” Namun, Rasulullah Saw biasa berpuasa pada hari ‘Asyura bahkan setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan.

Abdullah Ibn Mas’ud mengatakan, “Nabi Muhammad lebih memilih berpuasa pada hari ‘Asyura dibandingkan hari lainnya dan lebih memilih berpuasa Ramadhan dibandingkan puasa ‘Asyura.” (HR Bukhari dan Muslim). Pendek kata, disebutkan dalam sejumlah hadist bahwa puasa di hari ‘Asyura hukumnya sunnah.

Beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura. Alasannya, seperti diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi hanya berpuasa pada hari ‘Asyura saja dan Rasulullah ingin membedakan puasa umat Islam dengan puasa orang Yahudi. Oleh sebab itu ia menyarankan umat Islam berpuasa pada hari ‘Asyura ditambah puasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya (tanggal 9 dan 10 Muharram atau tanggal 10 dan 11 Muharram).

 

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu boleh

dilakukan.

Legenda dan Mitos Hari ‘Asyura

 

Meski demikian banyak legenda dari salah pengertian yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura, meskipun tidak ada sumber otentiknya dalam Islam. Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari’Asyura Nabi Adam diciptakan, pada hari ‘Asyura Nabi Ibrahim dilahirkan, pada hari ‘Asyura Allah Swt menerima tobat Nabi Ibrahim, pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada

hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

 

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhmmad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak bisa dikaitkan dengan

peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan

hari ‘Asyura.

 

Anggapan-anggapan yang salah lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain terbunuh pada bulan itu. Akibat adanya anggapan yang salah ini, banyak umat Islam yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai

tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala, apalagi disertai dengan ritual merobek-robek baju atau memukuli dada sendiri.

Nabi Muhammad sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.

Rasulullah bersabda, “Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan menangis seperti orang-orang pada zaman jahiliyah.”

Bulan Pengampunan Dosa

 

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan pertumpahan darah.

 

Seperti sudah disinggung di atas, bahwa bulan Muharram banyak memiliki keistimewaan. Khususnya pada tanggal 10 Muharram. Beberapa kemuliaan tanggal 10 Muharram antara lain Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun ke depan.

Waspadalah Para Wanita

Para lelaki tahu bahwa ada wanita yang sulit membedakan khayalan dan kenyataan. Seorang lelaki yang setiap hari berganti mobil dikira kaya raya oleh beberapa wanita. Padahal, lelaki ini sedang magang dan mulai meniti karir dengan menjadi sales di dealer mobil. Untuk memudahkan mencapai target, lelaki ini boleh membawa mobil milik dealer saat bertemu dengan calon pembeli.

Ada juga wanita mengira lelaki yang tinggal di perumahan elit itu berarti kaya raya. Padahal harta kekayaan itu milik orang tuanya yang belum tentu diwariskan kepadanya. Atau boleh jadi lelaki itu hanya numpang di rumah pakde atau omnya di perumahan elit itu.

Ada pula wanita mengira lelaki yang sering mengajak dan mentraktir makan di restoran mewah dan mahal itu sudah kaya raya. Padahal ia membayarnya menggunakan kartu kredit dan boleh jadi ia tak sanggup bayar saat jatuh tempo. Terlihat kaya tetapi belum stabil ekonomi. Masih perlu stabilisasi ekonomi.

Waspadalah wahai para wanita, jangan silau dengan penampilan dan terbujuk tutur kata para pria. Kenapa? Simaklah kisah berikut.

Sepasang lelaki dan wanita yang saling jatuh cinta melakukan pernikahan. Setelah menikah sang wanita protes, “Mas, ternyata kamu miskin banget ya, aku baru tahu sekarang.”

Sang suami menjawab lembut, “Kan sebenarnya saya sudah memberitahumu sejak sebelum kita menikah bahwa saya miskin.”

“Perasaan gak pernah ngomong, deh!” Sang istri langsung menjawab.

Suaminya kemudian menjelaskan, “Saya dulu pernah bilang ke kamu begini, sayang, kau adalah satu-satunya milikku di dunia, aku tak punya yang lain. Ketika itu kamu malah menjawab, so sweet, romantis banget, aku siap jadi istrimu.”

“!@#&$%^*?”

Salam SuksesMulia!

Lelet

        Saya tahu istilah “lelet” dari teman-teman saya. Lelet itu bermakna lambat. Banyak contoh lelet: datang ke kantor atau tempat pertemuan selalu telat, apabila mengerjakan tugas selalu lewat batas waktu. Jika orang lain mampu bisa mengerjakan sesuatu dalam satu hari orang lelet menghabiskan waktu berhari-hari.

Di era serba cepat saat ini, mereka yang lelet akan tertinggal. Saran saya, apabila Anda ingin berhasil dalam karir jangan lelet. Begitu pula bagi Anda pengusaha, lelet akan menyebabkan produk atau jasa Anda tak mampu menjawab kebutuhan zaman.

Siapakan orang-orang yang lelet itu?

Pertama,  para pemalas. Ciri utama pemalas adalah sering menunda-nunda pekerjaan. Kosa kata yang sering dia gunakan adalah “entar”, ogah, males banget dan sejenisnya.

Semakin tua para pemalas akan semakin mengalami depresi dan minder. Namun sayangnya banyak diantara mereka yang tidak menyadari itu. Semakin tua para pemalas juga berpeluang menjadi trouble maker. Tak banyak yang dikerjakan tetapi ingin memperoleh berbagai fasilitas yang didapat oleh orang yang berprestasi.

Kepada para pemalas, ingatlah nasihat bangsa Korea: Orang-orang sukses itu punya ciri, saat orang lain tidur, ia bangun. Saat orang lain bangun, ia berdiri. Saat orang lain berdiri, ia berjalan. Saat orang lain berjalan, ia berlari. Dan saat orang lain berlari, ia terbang.

Kedua, orang yang tidak tahu prioritas. Banyak orang yang sibuk tetapi sebenarnya hasilnya tidak seberapa. Mereka bekerja tetapi mengerjakan sesuatu yang tidak penting. Mereka tak tahu bahwa dirinya lelet karena mereka sudah merasa bekerja.

Ketiga, orang yang takut berbuat salah. Kesalahan dalam bekerja itu sesuatu yang wajar. Dari berbagai kesalahan kita belajar untuk menjadi yang lebih baik. Nah, orang-orang yang lelet biasanya sangat takut melakukan kesalahan, tetapi ironisnya dia justru tidak menuntaskan pekerjaannya.

Lelet sangat merugikan Anda. Lelet membuat Anda tak terekam “radar” persaingan orang-orang berkualitas. Lelet juga merugikan orang-orang di sekitar Anda. Lelet itu menjadi beban bagi pimpinan Anda. Lelet sudah saatnya dimasukkan ke dalam keranjang sampah. Setuju?

Salam SuksesMulia

Untuk Apa Uang dan Hartamu?

“Janganlah Anda mencari harta tetapi kehilangan sahabat. Karena mencari sahabat adalah cara untuk mencari harta.”  (Dr. Muhammad al-’Areifi)

Saat era kapitalisme dan hedonisme menguasai dunia seperti saat ini, uang dan harta bisa menjadi raja. Siapa yang punya banyak uang, dialah yang menjadi penguasa atau setidaknya bisa mempengaruhi penguasa. Dalam bahasa yang lebih halus sering dikatakan “uang memang bukan segalanya tetapi segalanya perlu uang”.

Uang dan harta ibarat pisau bermata dua, dia bisa digunakan untuk keburukan namun bisa juga digunakan untuk kebaikan. Hal itu sangat bergantung kepada siapa yang memegangnya. Saat si pemegang uang memiliki pola pikir “uang dan harta adalah panglima atau raja” maka itu sangat berbahaya.

Orang-orang dengan pola pikir tersebut di atas bisa menghalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Ia telah menjadi hamba sementara uang dan harta menjadi raja. Ia rela diperbudak uang dan harta. Ia rela kehilangan sahabat hanya karena uang, bahkan ia juga rela membunuh orang lain demi hartanya. Ngeri!

Sebaliknya, uang dan harta akan lebih banyak manfaat dan dampak positifnya bila yang memegang memiliki pola pikir “hidup itu untuk berbagi, uang dan harta hanya alat untuk memberi banyak manfaat”. Orang-orang semacam ini tetap menjadi “panglima atau raja” sementara uang menjadi hambanya.

Mereka yang menjadikan uang sebagai hambanya tak khawatir jika uang dan hartanya dibagi. Justru mereka berpikir bahwa uang dan harta yang menyelamatkannya adalah uang dan harta yang dibagi kepada orang lain. Mereka juga khawatir bila uang dan hartanya tak bisa menjadi penyelamat di kehidupan akherat.

Uang dan harta bisa memperalat kita menjadi orang jahat, bisa juga membuat kita kehilangan sahabat. Maka milikilah pola pikir yang benar tentang uang dan harta. Milikilah mental yang kuat agar kita tidak diperbudak. Dan milikilah banyak sahabat yang berani memberi nasihat agar kita selamat dunia dan akhirat.

Salam SuksesMulia!

Bukan Hanya Sekadar Kalimat

Jangan remehkan sebuah kalimat. Mengapa? Karena, kalimat bisa menentukan suatu pekerjaan berdosa atau berpahala. Kalimat bisa juga menentukan suatu aktivitas berkah atau tidak. Bahkan, sebuah kalimat bisa menjadi pembuka kebaikan atau keburukan.

Contohnya, kalimat “aku terima nikahmu dengan mas kawin perhiasan emas seberat 99 gram dibayar tunai” menjadikan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi halal. Sesuatu yang pada awalnya dilakukan berdosa, dengan kalimat tersebut menjadi berpahala.

Memang penentunya bukan hanya kalimat itu, masih perlu ada saksi, wali dan kedua mempelai. Namun tanpa kalimat tersebut di atas atau kalimat sejenisnya sebuah perkawinan tidak dianggap sah. Kalimat tersebutlah yang membedakan seseorang disebut “kumpul kebo” atau berumah tangga.

Setelah berumah tangga, sebuah kalimat juga bisa menentukan keberkahan aktivitas. Seorang istri yang berkata. “Mas, aku sudah daftar kuliah S2, bulan depan aku mulai kuliah.” Makna kalimat itu bisa sangat berbeda dengan, “Mas mohon izin, boleh gak saya daftar kuliah S2? Kalau boleh, bulan depan saya sudah mulai kuliah.”

Kalimat yang pertama, dengan asumsi tidak ada pembicaraan sebelumnya itu bermakna memberi tahu bukan meminta izin. Sementara kalimat kedua lebih mencerminkan kerendahan hati seorang istri yang menyadari bahwa aktivitas di luar rumah perlu meminta izin kepada suami.

Dengan kalimat pertama atau kedua, boleh jadi seorang istri tetap bisa kuliah S2. Tetapi proses dan hasilnya bisa berbeda. Dukungan dan pengertian dari suami akan lebih full apabila seorang istri menggunakan kalimat kedua. Mengapa? Karena istri kuliah setelah mendapat restu dari suami. Dan saya yakin, keberkahanpun akan berlimpah bagi istri yang menggunakan kalimat kedua.

Begitupula salah satu yang membedakan sesuatu transaksi keuangan sesuai syariah atau tidak adalah kalimat awal saat transaksi.  Transaksi syariah itu menggunakan kalimat yang mencerminkan bagi hasil atau jual beli. Sementara transaksi non-syariah itu mencerminkan kalimat pinjaman dengan bunga yang ditentukan pihak pemberi pinjaman.

Kita perlu terus berlatih menggunakan kalimat yang tepat di moment yang tepat. Dengan harapan, kita selamat dunia-akhirat. Sepakat?(By: Jamil Azzaini)

Salam SuksesMulia!